BOLEHKAH SEORANG ISTRI MENGAJUKAN GUGATAN PERCERAIAN?

BOLEHKAH SEORANG ISTRI MENGAJUKAN GUGATAN PERCERAIAN?

Dalam hukum ada 2 (dua) jenis pengajuan perceraian, yang mana disebut cerai gugat dan cerai talak yang dalam proses pengajuannya tentu mempunyai karakteristik masing-masing.

Lalu, apa yang dimaksud dengan cerai gugat tersebut, cerai gugat itu merupakan cerai yang diajukan oleh seorang istri pada Pengadilan Agama di wilayah domisili Istri tinggal, sedangkan Cerai talak merupakan pengajuan cerai talak yang diajukan oleh pihak suami/laki-laki kepada istrinya yang diajukan di Pengadilan Agama di wilayah dimisili Istri tinggal, hal inilah yang membedakan antara cerai gugat dengan cerai talak.

Lalu apakah ada perbedaannya dalam proses pengajuannya?

Jika dilihat jadi proses hukum acaranya tidak ada perbedaan yang signifikan, akan tetapi secara materiil akan menimbulkan akibat yang berbeda, seperti misalkan bila seorang suami yang mengajukan pengajuan cerai talak di Pengadilan akan memunculkan beberapa hak istri yang wajib untuk dipenuhi oleh seorang suami yang mentalak istrinya seperti Hak Iddah, Hak Mut’ah (hadiah yang diberikan satu kali setelah istri diceraikan oleh suaminya ), atau Nafkah terutang bila ada nafkah yang belum diberikan suami kepada istri, nafkah hadhonah untuk anak-anak yang belum dewasa atau belum mencapai usia 21 tahun  sebagaimana diatur dalam Pasal 149 Kompilasi Hukum Islam (KHI), sedangkan bagi seorang istri yang mengajukan pengajuan gugatan cerai di Pengadilan Agama maka segala haknya sebagai istri yang dicerai akan gugur dan tidak mendaptkannya, seperti nafkah iddah selama tiga bula dan nafkah mut’ah sedangkan bagi seorang istri yang mengajukan cerai talak tetap bisa mendapatkan nafkah terutang apabila bisa membuktikan di depan persidangan bahwa benar suaminya sudah lama tidak memberi nafkah selama menikah.

Beberapa alasan-alasan yang dibenarkan oleh hukum dalam pengajuan guugata perceraian sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai berikut :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk , pemadat, penjudi dan lainnya sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan ewajibannya sebagai suami atau istri;
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
  7. Suami melanggar taklik talak;
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Alasan-alasan tersebut diatas merupakan alasan yang dibenarkan oleh hukum untuk pengajuan perceraian, dan perlu diingat juga bahwa hukum agama islam pun tidak melarang adanya perceraian akan tetapi perceraian adalah suatu perbuatan yang saat di benci oleh oleh Allah SWT sehingga apabila anda baik suami/istri bila masih bisa mengupayakan dan mempertahankan pernikahan alangkah lebih baik tetap dipertahankan.

BOLEHKAH SEORANG ISTRI MENGAJUKAN GUGATAN PERCERAIAN? Konsultasi secara daring atau online lebih lanjut bisa menghubungi melalui telepon atau Whatsapps : 6285664214015 atau datang langsung ke kantor kami yang beralamat di Jl. Rejowinangun No.420E, Kotagede, Kota Yogyakarta.

 

 

 

BNA LAWFIRM

Pengacara Perceraian Yogyakarta Jogja Sleman Bantul Wates Kulonprogo Wonosari Gunungkidul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
KONSULTASI HUKUM !!!